Friday, March 21, 2014

Hidayah Datang, Mr. Bean Masuk Islam

Orang-orang kafir yang membenci Islam selalu mencari cara untuk mendiskreditkan atau menyudutkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad tersebut, salah satunya melalui media film. Masih ingat tentunya kita dengan film yang berjudul 'Innocence of Muslim' yang isinya menghina Islam, tapi ironinya film yang ditujukan untuk menyudutkan Islam itu malah membuat salah satu aktor komedi terkenal Roman Atkison alias Mr. Bean masuk Islam !!

Hidayah milik Allah semata, dan bila Allah sudah memberikan, tak satupun yang dapat menghalanginya.
Rowan Atkinson, pemeran film komedi "Mr Bean" menyatakan masuk Islam pada hari Selasa, 1 Oktober 2013 yang dilansir Islampos pada 2 Oktober 2013.
"Mr Bean" mendapatkan hidayah, setelah sebelumnya ia menonton film penghinaan
kepada Rasulullah shallallahu'alayhi wassalam, "Innocence of Muslim".
Salah seorang pembimbing Rowan Atkinson dalam perjalanannya mencari kebenaran adalah Sheikh Rashid Ghannousyi.

Dalam Al-Qur'an surat Al -baqarah ayat 272 Allah berfirman : "Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya."

Wednesday, March 19, 2014

Jangan Mudah Digiring Oleh Opini Media Mainstream

Peran media baik cetak, elektronik maupun online sangatlah besar pengaruhnya dalam membentuk opini publik, namun media-media tersebut tidaklah obyektif dalam menyampaikan berita, karena mereka tidak hanya mencari keuntungan tapi juga punya misi. Baik misi politik atau misi ideologi. Inilah yang harus diwaspadai! Konten berita atau opini mereka akan menyudutkankan lawan politik atau lawan ideologinya. Sementara untuk memuluskan misinya. Mereka akan membuat pencitraan dengan berita yang masif, intensif dan sistematis melalui sosok-sosok pilihan atau peristiwa-peristiwa fenomenal. Sosok-sosok pilihan tentu saja orang yang ideologinya sama atau jika tidak sama ya minimal orang yang sangat toleran. yang mudah diberi imbalan berupa uang, popularitas dan kekuasaan. Mengenai peristiwa-peristiwapun sama, jika hal negatif menimpa lawan politik dan ideologinya maka berita keburukan itu akan diberitakan selebar-lebarnya bahkan diperluas sampai keluar substansinya, namun jika hal negatif itu menimpa orang seideologi atau sepaham dalam politik maka akan diberitakan sesedikit mungkin atau kalo bisa malah ditutupin. Sebaliknya jika hal positif dilakukan oleh lawan politik dan ideologinya, maka akan diberitakan secara singkat dan alakadarnya bahkan tak jarang dilewat saja tidak diberitakan, sementara jika hal positif dilakukan oleh orang yang seideologi maka akan diberitakan sebesar-besarnya dan dikupas habis bahkan disanjung-sanjung setinggi langit. Mending kalau hal positif itu benar. Gimana coba kalo rekayasa??
Selain konten berita yang harus sejalan dengan kehendak sang pemilik media, bisa saja konten berita atau opini itu adalah pesanan dari orang atau sekelompok orang yang mempunyai finansial yang kuat untuk memuluskan misi politik dan ideologinya.
Jadi kesimpulannya janganlah mudah terprovokasi oleh media, jangan langsung percaya saat menerima berita, carilah berita dari sumber yang berbeda lalu dikomparasi dan dikaji dengan matang. Dan yang paling penting kita harus tahu siapa pemilik medianya, apa ideologinya agar kita bisa lebih waspada dan teliti saat menerima berita yang datang.

Daftar Partai Terkorup

Berdasarkan rilis yang dilakukan oleh Pilkada Update Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi partai yang kader-kadernya paling banyak terlibat korupsi yaitu 84 kasus, disusul di posisi kedua adalah Partai Golkar dengan 60 kasus. Di posisi ketiga ada Partai Amanat Nasional dengan 36 kasus, kemudian disusul oleh Partai Demokrat di urutan keempat dengan 30 kasus.

Berikut ini daftar selengkapnya partai-partai yang kadernya terlibat kasus korupsi versi Pilkada Update :


1. PDIP (84 Kasus)
2. GOLKAR (60 Kasus)
3. PAN (36 Kasus)
4. DEMOKRAT (30 kasus)
5. PPP (13 Kasus)
6. PKB (12 Kasus)
7. HANURA (6 Kasus)
8. GERINDRA (3 Kasus)
9. PBB (2 Kasus)
10. PKS (2 Kasus)
11. PKPI (1 Kasus).

Sunday, March 2, 2014

Pembentukan Opini Publik Oleh Media

Bentuk jamak dari kata media adalah medium yang berarti pertengahan, nah yang namanya pertengahan itu mestinya netral. Namun pada kenyataannya media-media malah menjadi alat propaganda dan lebih cenderung subyektif. Parahnya, masyarakat Indonesia itu cenderung malas dan tidak pernah mau bersusah payah untuk mencari kebenaran sejati atau meluangkan waktu untuk meneliti kebenaran informasi yang diterimanya. Hal ini tentu menjadi santapan empuk bagi jaringan media nasional berlabel raksasa/mainstream baik itu media cetak, media elektronik dan media online untuk membentuk opini publik demi kepentingan pribadi dan golongannya. Merekapun dengan secara masif, intensif dan sistematis menghujani masyarakat dengan berita-berita yang menyudutkan lawan politik atau ideologinya dan tentu saja yang menguntungkan pribadi, kelompok dan ideologinya. Bahkan media yang tadinya netralpun bisa saja dibayar oleh suatu kelompok untuk menggiring opini publik sesuai dengan pesanan.

Sebenarnya jika mau mencari informasi lebih dalam dan tidak mengambil dari satu sumber saja, maka tirai-tirai kebenaran akan terkuak. Kita perlu tahu juga siapa para pemilik media dengan warna politik dan ideologinya, sehingga kita akan tahu maksud dan tujuan dari pemberitaan yang diluncurkan ke publik.

"Wahai orang yang beriman! Jika orang fasik datang membawa berita padamu, maka hendaklah kamu selidiki(lebih dulu) supaya kamu jangan melakukan (tindakan) terhadap suatu golongan dengan ceroboh, nantinya kamu akan menyesal". (Surat Al-Hujurat ayat 6).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...